Rabu, 14 Desember 2011

Penampilan Kami *cieeee.....*

Masih di Rabu 29 Juni 2002

Setelah shubuh aku mulai didandani umumnya seorang pengantin, aku berpesan pada perias agar make upnya tidak terlalu tebal. Selain karena tidak terbiasa bermake-up kecuali bedak tipis, juga karena tidak ingin tampil berlebihan. Alhamdulillah periasnya kooperatif,,,,, meski tetap saja aku merasa mukaku kelebihan warna :P

yeaaahhh dongker!
Aku memakai kebaya biru dongker yang dijahit khusus untuk penikahan & milikku sendiri.
Dengan bawahan kain batik yang dijahit membentuk rok, modelnya didapat dari majalah khusus pernikahan yang direkomendasikan calon suamiku.
Plus kerudung segitiga berwarna emas dipadu kerudung panjang biru dongker, dihias ronce bunga melati.

Sementara pengantin pria, yang sekarang jadi suamiku maksoodnyaa..... pakai beskap dan celana panjang (ya iyalaaah masa pake rok juga) warna biru dongker.
Trus pake "kopiah gaya" aku bilang, berbenang kombinasi emas dan lagi-lagi biru dongkeerrrr.
Ini memang warna pilihanku, dan biru warna kesukaan si dia.


Oya karena selesai akad  langsung diserbu tamu yang ga berenti-berenti, jadi kain batik sebagai aksen yang harusnya dipakai suami sejak selesai akad baru bisa dikenakan siang banget, jam 2an!
Telat pake dweh judulnyaa.... Ga masalah, yang penting waktu sesi popotoan kain itu udah bisa dipake, hehe....

Dari akad nikah sampai selesai resepsi kami ga gonta-ganti baju lho. Ya satu baju tadi itu aja.
Prinsipku, biar satu tapi pakai punya sendiri bajunya, bukan baju pinjeman dari salon begithu. So simple!





Ubr, 11122011
00.15
Warung Rase-nya belum tutup ya Ayah....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar